TUNIBATTA RAJA GOWA YANG TUMBANG DI BUKAKA
BONE – Tunibatta Raja Gowa yang Tumbang di Bukaka, Sejarah tersebut dikaji oleh Teluk Bone Mursalin, S.Pd., M.Si di Watampone, ,01/06/2023
Mursalin, S.Pd., M.Si mengkaji sejarah tersebut mengatakan Perang antara Bone dengan Gowa untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 1563.
Peperangan ini hanya dipicu lantaran Jangan Ejana Gowa, dikalahkan oleh Manu Bakkana Bone. Kekalahan itu ternyata tidak diterima raja Gowa. Dengan kekalahan itu menjatuhkan nama besar Gowa dan kerajaan yang dianggap terkuat di Sulawesi Selatan pada masa itu.
“Kekalahan Gowa berdampak positif bagi Bone, karena tidak lama setelah peristiwa itu, serta merta kerajaan-kerajaan sekitar Bone, seperti Tellu Limpoe yang meliputi Tondong, Lamatti, dan Bulo-Bulo, menyatakan diri bergabung dengan Bone.
“Dengan bergabungnya Tellu Limpoe, yang sebelumnya merupakan negeri Palili Kerajaan Gowa tersebut, memperkuat alasan bagi Gowa, melancarkan serangan militer pertama terhadap Bone.
“Pada masa itu, satu-satunya kerajaan Bugis yang belum pernah diganggu kerajaan Gowa adalah Bone. Hal itu disebabkan kedua kerajaan masih diikat dengan perjanjian Tamalate.
“Akan tetapi dengan kekakalahan manu jagonya tersebut, kerajaan Gowa merasa dipermalukan. Oleh sebab itu, Gowa melakukan persiapan penyerbuan terhadap Bone dengan kekuatan penuh.
“Kerajaan Bone masa itu dipimpin oleh La Tenrirawe Bongkangnge, raja Bone ke-7. La Tenrirawe Bongkangnge menduduki takhta di kerajaan Bone menggantikan ayahandanya La Uliyo Botee raja Bone ke-6.
“Sebagai raja Bo’ne ke-7, La Tenrirawe Bongkangnge sangat dicintai rakyatnya, karena berbudi pekerti yang luhur adil dan bijaksana. Dimasa pemerintahannya berhasil membentuk konsep peradaban yang tinggi, yang didampingi penasihatnya, La Mellong Kajao Lalliddong.
“Dimasa kekuasaannya inilah, kerajaan Gowa mengingkari dan menghianati perjanjian Tamalate, yang telah disepakati pendahulunya.
Lanjut Budayawan Teluk Bone Mursalim, S.Pd.,M.Si mengungkapkan Sementara kerajaan Gowa dipimpin oleh IManriwagau Daeng Bonto, Karaeng Lakiung, Tunipalangga Ulaweng, raja Gowa ke-10. Menduduki takhta kerajaan Gowa sejak 1546-1565. Ia menggantikan ayahandanya Daeng Matanre Karaeng Manguntungi raja Gowa ke-9.
“Sebagai raja Gowa ke-10, Mariwagau Daeng Bonto dikenal sebagai pemberani dan amat mahir berperang. Ia mulai membangun kekuatan militer kerajaan Gowa seoerti pengadaan bubuk mesiu.
“Dengan kekuatan militernya itu, Gowa mulai menaklukkan negri-negri Bugis wilayah Ajattappareng, bahkan meluas hingga Sulawesi Tengah dan Toli-toli. Negri-negri yang sudah ditaklukkan diwajibkan membayar upeti tiap tahun kepada Gowa.
“Tidak hanya itu, Gowa memaksa negeri-negeri yang ditaklukkan, dan merelokasi penduduknya untuk dipekerjakan dalam pembangunan benteng dan pengairan.
“Pada masa itu, satu-satunya negeri Bugis yang masih bebas dari pengaruh Gowa di Sulawesi Selatan hanya kerajaan Bone.
“Namun, ketika Manu Jagoannya mengalami kekalahan sewaktu kunjungan di kerajaan Bone, Raja Gowa Mariwagau Daeng Bonto merasa sangat malu. Oleh sebab itu, ia mempersiapkan pasukan untuk menyerang Kerajaan Bone.
“Serangan pertamanya ke Bone mulai dilancarkan pada tahun 1562. Dengan pasukan berkuda melancarkan serangan melalui jalan darat lewat Maros Camba. Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh pasukan kerajaan Bone di wilayah Tellu Limpoe Sinjai.
“Ambisi Gowa menalukkan Bone tak pupus. Tak lama kemudian Gowa kembali melancarkan serangan militer kedua tahun 1563. Ia masuk melalui Teluk Bone. Terjadilah pertempuran di daerah Cellu selama 5 hari.
“Namun serangan kedua ini kembali dipatahkan oleh pasukan kerajaan Bone. Pasukan Gowa memilih mundur untuk mencegah banyaknya jatuh korban.
“Dua tahun kemudian tepatanya tahun 1565, serangan ketiga dilakukan. Pasukan Gowa mengambil pertahanan di Sungai Walennae Cenrana. Akan tetapi raja Gowa tiba-tiba diserang penyakit malaria. Sehingga ia bersama seluruh pasukannya kembali ke Gowa. Konon, setibanya di Gowa beliau meninggal dunia.
“Oleh sebab itu, tahun itu juga, ia digantikan oleh saudaranya yaitu I Tajibarani Daeng Marumpa Karaeng Data sebagai raja Gowa ke-11. Ia pun melanjutkan usaha saudaranya untuk melumpuhkan Bone. Bahkan dengan armada perang yang lebih tangguh dari serangan-serangan sebelumnya.
“Dua bulan kemudian, dengan pasukan yang lebih besar, I Tajibarani melancarkan invasi ke Bone. Armada perang dari Gowa berlayar menyusuri Teluk Bone hingga tiba di Tanjung Palette dan Bukit Cempalagi. Pasukan Gowa membuat benteng pertahanan di Mallari.
“Dari Mallari tentara Gowa menyerbu masuk Pappolo. Di Pappolo ia membuat basis pertahanan. Lewat Talumae tentara Gowa menyerbu ke selatan dan membakar kampung Bukaka.
Demikian hebat serangan pasukan Gowa kali ini, berhasil merebut beberapa wilayah palili Kerajaan Bone seperti Cenrana, Ajangale, dan Awangpone.
Pada hari yang terakhir, matahari condong ke barat, saat pasukan Gowa menghalau ternak dan harta rampasannya, tiba-tiba pasukan elit kerajaan Bone mengepung dari segala arah. Orang-orang Ajangale, Cenrana dan Awampone datang bergabung dengan pasukan Bone.
Pertempuran jarak dekat terjadi di kawasan bububung Lagaroang Bukaka. Raja Gowa Itajibarani dengan gagah berani memimpin pasukannya untuk terus maju. Pasukan kedua pihak jatuh berguguran.
Dalam kondisi seperti itulah, tiba-tiba seorang pasukan elit Bone yang bernama La Tunru yang dikenal kebal setelah mandi di bubung Lagaroang, lalu mendekati raja Gowa Itajibarani. Terjadilah pergumulan dan berhasil memenggal kepala Itajibarani hingga tewas.
“Raja Gowa sipemberani itu, tewas di medan laga dan jenazahnya tergeletak di tanah. Pasukannya lari tercerai berai meninggalkan jasad sang raja. Seluruh pasukan Gowa ditawan oleh Bone.
Adik raja Bone yang bernama La Inca meminta, agar pasukan Gowa yang tidak mau menyerah untuk dieksekusi. Tapi permintaan itu dilarang oleh raja Bone La Tenrirawe Bongkangnge.
“Menurutnya, lawan yang sudah kalah dan menyerah tidak boleh disakiti. Mereka harus dilindungi. Dengan gugurnya ITajibarani, maka pasukan Gowa yang masih hidup menyerah tanpa syarat.
“Raja Bone La Tenrirawe kemudian memerintahkan prajuritnya untuk mengurus dengan baik jenazah raja Gowa Itajibarani dan merawat pasukan Gowa yang luka-luka.
“Itulah sebabnya kemudian, raja Gowa yang tewas di Bukaka diberi gelar anumerta tunibatta, artinya raja yang ditetak lehernya.
Selanjutnya atas usaha penasihat kerajaan Bone La Mellong Kajao Lalliddong, maka jenazah raja Gowa dipulangkan ke Gowa untuk dimakamkan.
Pemberangkatan jenazah ITajibarani ke Gowa, tak hanya diusung oleh prajurit Gowa, tapi juga pembesar dari Dewan adat Kerajaan Bone, seperti Arung Teko, Arung Biru, Arung Sanrego dan Arung Lamoncong. Selanjutnya jenazah Raja Gowa I Tajibrani dimakamkan di Bukit Tamalate dengan upacara kebesaran.
Kerajaan Gowa kemudian, dipimpin oleh IManggorai Daeng Mammeta, Karaeng Bontolangkasa Tunijallo, sebagai raja Gowa ke-12, yang memerintah 1565-1590.
Selang beberapa waktu, akhir bulan Desember tahun 1565, kedua kerajaan sepakat untuk berdamai. Para pembesar Bone menawarkan Kampung Caleppa sekitar Pappolo, sebagai tempat perundingan. Tempat itupun disetujui oleh kerajaan Gowa.
Dalam perundingan perdamaian itu, delegasi kerajaan Bone dihadiri Penasihat kerajaan Bone, La Mellong Kajao Lalliddong serta pembesar Bone lainnya.
Sementara dari pihak Gowa, mengutus Perdana Menteri Kerajaan Gowa-Tallo, I Mappataka Tanah, Daeng Padulung, bersama pembesar Gowa lainnya.
Karena perundingan perdamaian antara Bone dan Gowa tersebut dilaksanakan di Caleppa, itulah sebabnya dinamakan perjanjian Caleppa, atau ulu ada’e ri Caleppa.
Adapun inti perjanjian Caleppa, menyangkut wilayah dan perbatasan kedua kerajaan, yaitu
Sungai Walennaeh Cenrana disebelah utara, adalah milik kerajaan Bone. Karena Cenrana merupakan wilayah kerajaan Bone sejak tahun 1530, masa pemerintahan La Tenrisukki Mappajungnge, raja Bone ke-5.
Kemudian daerah Ulaweng, hingga ke utara sampai pompanua adalah milik Kerajaan Bone.
Sungai Tangka bagian selatan masuk wilayah kerajaan Gowa, sedangkan bagian utara Sungai Tangka adalah wilayah kerajaan Bone.
Itulah ketiga isi dalam perjanjian Caleppa dan disepakati bersama kedua kerajaan.
Dalam setiap invasi militer Gowa ke Bone, sebetulnya Gowa tidak pernah benar-benar menaklukkan Bone. Akan tetapi dengan terbunuhnya raja Gowa dalam serangan ini, memaksa kerajaan Gowa untuk menyetujui isi perjanjian Caleppa.
Namun dalam perkembangannya, Gowa selalu mengingkari perjanjian itu, dan tetap menunggu kesempatan yang baik untuk menaklukkan Bone kemudian hari.
Itulah kisah tumbangnya raja Gowa, I Tajibarani Daeng Marumpa Karaeng Data Tunibatta, serta isi perjanjian Caleppa pada tahun 1565.j Budayawan Teluk Bone
Penulis Berita: HAUS
