Workshop PKG Kurikulum Merdeka Belajar di UPT SMP Negeri 1 Kec.Barebbo Kab.Bone
Bone, Pemburu Berita.Com -UPT SMP Negeri 1 Barebbo membuat gebrakan baru dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Di bawah nahkoda Sa’ade, S.Pd. mengadakan Workshop PKG Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Prototipe Merdeka Belajar di Aula Serbaguna UPT SMP Negeri 1 Barebbo, Sabtu-Selasa, 26-29 Maret 2022.
Workshop ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Drs. Andi Fajaruddin, M.M. dengan narasumber Dr. Jabaruddin, M.Pd. Pelatih Ahli Guru Penggerak Sulsel.
Ketua Panitia Pelaksana Baharuddin, S.Pd. mengatakan tujuan pelaksanaan workshop ini adalah memberikan pengetahuan sedini mungkin kepada para guru tentang Kurikulum Prototipe Merdeka Belajar.

Dalam sambutannya, Kadisdik Bone mengatakan bahwa kondisi pendidikan di Indonesia pada masa pandemi mengharuskan adanya penyesuaian strategi untuk mengatasi kehilangan pembelajaran (learning loss). Hasil evaluasi yang dilakukan Kemendikburistek menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang menggunakan Kurikulum Darurat lebih maju empat sampai lima bulan belajar daripada yang menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh.
“Hasil ini menguatkan Kemendikbudristek dalam merancang Kurikulum Prototipe Merdeka Belajar agar lebih efektif,” kata Kepala Dinas Pendidikan.
Oleh karena itu, Kemendikbudristek berencana akan memberikan opsi kebijakan kurikulum untuk pemulihan pembelajaran, salah satunya melalui Kurikulum Prototipe yang merupakan lanjutan dari Kurikulum Masa Khusus Pandemi Covid-19 atau Kurikulum Darurat. Namun, Kemendikbudristek tetap mempersilakan sekolah untuk menggunakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan sekolah.
“Kurikulum Prototipe sebagai tambahan aksi. Bagi satuan pendidikan yang tetap menerapkan Kurikulum 2013 apa adanya silakan. Sekolah yang sudah menggunakan Kurikulum Darurat juga silakan memilih, apakah akan tetap menerapkan Kurikulum Darurat atau Kurikulum Prototipe,” tutur A. Fajaruddin, M.M.
Sebelumnya, A. Fajaruddin menjelaskan bahwa indikasi kehilangan kemajuan belajar terlihat dalam riset BSKAP Kemendikbudristek yang menunjukkan learning loss literasi dan numerasi secara signifikan. Untuk literasi, learning loss setara dengan enam bulan belajar. Sementara untuk numerasi, learning loss tersebut setara dengan lima bulan belajar.
Kepala Dinas menegaskan bahwa apapun opsi yang dipilih satuan pendidikan, diharapkan agar tetap mengacu pada standar nasional pendidikan.
“Nah, oleh karena itu saya bangga dan sangat mengapresiasi UPT SMP Negeri 1 Barebbo yang telah melangkah lebih awal melaksanakan Workshop ini sebagai wujud nyata penyiapan SDM dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar.” kata A. Fajaruddin.
Dalam kesempatan yang sama, Wakasek Kesiswaan, Samsul Bahri, S.Pd. mengapresiasi rancangan Kurikulum Prototipe yang lebih menekankan pada kompetensi dan membutuhkan fleksibilitas guru dalam mengajar.
“Kalau perubahan itu membuat belajar lebih membahagiakan dan hasil belajar anak lebih baik, kenapa tidak?” tutur Samsul.
Sementara Sa’ade, S.Pd. selaku Kepala Sekolah mengingatkan agar kemampuan siswa dalam hal memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai seperti kejujuran dan karakter. Ia juga menegaskan pentingnya menjaring masukan dari para pemangku kepentingan sebelum Kurikulum Prototipe dilaksanakan secara penuh.
“Kita ingin ada uji konsep, uji publik yang masif, supaya ketika diimplementasikan dapat terlaksana dengan baik. Karena itu, kami perlu masukan dari pemangku kepentingan dan penentu kebijakan agar di tahun mendatang dapat terlaksana dengan lancar,” ujar Sa’ade.
Dalam pemaparan materi, Dr Jabaruddin, M.Pd. membeberkan tiga karakteristik utama Kurikulum Prototipe yang dinilai dapat mendukung pemulihan pembelajaran. Pertama, pengembangan kemampuan non-teknis (soft skills) dan karakter mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis proyek. Kedua, Kurikulum Prototipe berfokus pada materi esensial sehingga ada waktu yang cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
“Ketiga, fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal,” jelas Jabar
“Perancangan kurikulum sekolah pun dapat diatur dengan lebih fleksibel. Tujuan belajar ditetapkan per fase, yakni dua hingga tiga tahun, untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan sekolah. Selain itu, jam pelajaran ditetapkan per tahun agar sekolah dapat berinovasi dalam menyusun kurikulum dan pembelajarannya.” demikian Dr Jabar mengakhiri pemaparannya.
(MAR Dkk)
