Guru Besar UB: Paradigma Transdisipliner Pada Eko-Akunta-Nesia

Jakarta, Juni 2026 – Gagasan membangun ekonomi dan akuntansi yang berakar pada realitas Indonesia menjadi sorotan dalam webinar nasional “Inside The Book: Eko-Akunta-Nesia” ditulis oleh Dr. Muhammad Aras Prabwo, S.E., M.Ak Dosen Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Prof. Dr. Meutia, S.E., M.P. Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Associate Professor Dr Windu Mulyasari, S.E., M.Si., CSRA Dosen Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dan Dr Agus Sholikhan Yulianto, S.E., Ak., M.Si. Dosen Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) yang diselenggarakan Ikatan Cendekiawan Muda Akuntansi (ICMA), Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini menghadirkan penulis buku Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak. dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) dan pembedah utama Prof. Dr. Lilik Purwanti, M.Si., CSRS., CSRA., Ak., CA, Guru Besar Bidang Akuntansi Keperilakuan Universitas Brawijaya (UB).

Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Aras Prabowo mengawali diskusi dengan pertanyaan mendasar yang menjadi fondasi lahirnya buku Eko-Akunta-Nesia, yakni: “Mengapa Indonesia masih menggunakan teori ekonomi dan akuntansi yang lahir dari konteks Barat untuk menjelaskan realitas Indonesia?” Ia menilai ekonomi dan akuntansi modern masih menghadapi persoalan mendasar karena “terlalu kapitalistik, terlalu individualistik, terlalu finansialistik, terlalu positivistik, serta mengabaikan budaya, komunitas, dan lingkungan.”

Sebagai respons atas persoalan tersebut, Aras menawarkan dua konsep utama, yaitu Ekonesia dan Akuntanesia. Menurutnya, Ekonesia merupakan paradigma ekonomi hibrida Indonesia yang mengintegrasikan pasar, negara, komunitas, dan ekologi dalam kerangka keadilan sosial, keberlanjutan, dan kedaulatan rakyat. Sementara Akuntanesia didefinisikan sebagai akuntansi substantif Indonesia yang mengintegrasikan dimensi finansial, sosial, budaya, lingkungan, dan spiritualitas ke dalam satu sistem akuntabilitas.

Namun, dalam kapasitasnya sebagai pembedah buku, Prof. Lilik Purwanti memberikan apresiasi sekaligus catatan kritis terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, buku Eko-Akunta-Nesia merupakan “karya yang berani dan inovatif karena tidak hanya mengkritik dominasi kapitalisme dan akuntansi positivistik, tetapi juga menawarkan paradigma alternatif yang berakar pada nilai-nilai lokal Indonesia.”

Guru Besar UB tersebut menilai kekuatan utama buku terletak pada pendekatan transdisipliner yang jarang ditemukan dalam literatur ekonomi dan akuntansi Indonesia. Ia menegaskan bahwa “kekuatan utama buku ini adalah upayanya mengintegrasikan ekonomi, akuntansi, sosiologi, antropologi, dan etika dalam satu kerangka pemikiran yang utuh dan transdisipliner.”

Meski demikian, Prof. Lilik menekankan bahwa sejumlah gagasan dalam buku masih memerlukan penguatan pada aspek implementasi dan pembuktian empiris. Dalam pembahasannya terhadap Bab Ekonomi Kapital, ia mencatat bahwa kritik terhadap kapitalisme telah disampaikan dengan kuat, tetapi perlu diimbangi dengan pembahasan mengenai kontribusi positif kapitalisme seperti inovasi teknologi, efisiensi, dan penciptaan nilai ekonomi. Ia bahkan menyarankan perlunya analisis lebih lanjut mengenai bagaimana kapitalisme dapat bertransformasi menjadi model yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Catatan kritis lainnya diberikan pada konsep Ekonesia. Menurut Prof. Lilik, gagasan sintesis antara pasar, negara, komunitas, dan ekologi merupakan inti sekaligus keunggulan buku. Namun, ia mengingatkan bahwa implementasi kebijakan yang diusulkan membutuhkan kapasitas kelembagaan yang besar dan roadmap yang lebih rinci agar dapat diterapkan secara efektif.

Terhadap konsep Akuntanesia, Prof. Lilik memberikan apresiasi tinggi karena dinilai sebagai kontribusi akademik paling penting dalam buku tersebut. Ia menyatakan bahwa “Konsep Akuntanesia menjadi kontribusi penting bagi pengembangan akuntansi kritis dan akuntansi sosial di Indonesia karena memperluas makna akuntabilitas dari sekadar aspek finansial menuju aspek sosial, budaya, dan ekologis.” Namun demikian, ia juga menilai hubungan Akuntanesia dengan PSAK, IFRS, ISSB, dan ESG masih perlu diperjelas agar konsep tersebut lebih mudah diimplementasikan dalam praktik profesional.

Melalui forum ini, diskusi mengenai Eko-Akunta-Nesia tidak berhenti pada apresiasi terhadap gagasan baru, tetapi juga menghadirkan evaluasi akademik yang kritis. Dengan demikian, buku ini diposisikan bukan sebagai jawaban final atas persoalan ekonomi dan akuntansi Indonesia, melainkan sebagai titik awal lahirnya paradigma transdisipliner yang membuka ruang dialog, penelitian, dan pengembangan teori yang lebih kontekstual bagi Indonesia. (Ars)

admin

PT. MEDIA PEMBURU BERITA SK Menteri Hukum & HAM AHU: 0031538.AH.01.01.TAHUN 2019 Nomor Induk Berusaha (NIB): 9120000780489 NPWP PERUSAHAAN : 91.916.307.1-808.000 DIREKTUR UMUM; ISKANDAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *