Farid F. Saenong Terbitkan Kritik Teks dan Historitas Tafsir
Jakarta,pemburuberita.com — Akademisi dan peneliti Farid F. Saenong menerbitkan buku Kritik Teks dan Historitas Tafsir, sebuah karya yang mengajak pembaca menelaah dinamika kajian Al-Qur’an secara kritis, historis, dan interdisipliner. Buku ini mempertemukan khazanah klasik ilmu tafsir dengan perkembangan pemikiran modern, seperti hermeneutika, kritik teks, antropologi, dan studi agama kontemporer.
Karya tersebut lahir dari pergulatan intelektual panjang penulis di sejumlah pusat studi Islam di dunia. “Buku ini merupakan karya yang menyimpan pengaruh diskursus besar Ciputat, Kairo, Leiden, Manchester, Canberra dan Wellington,” ungkap Farid dalam pengantar bukunya.
Buku ini disusun dalam tiga bagian utama. Bagian pertama membedah otoritas tafsir melalui pembahasan tentang kaidah tafsir, Mushaf Utsmani, intertekstualitas Al-Qur’an, kosmopolitanisme tafsir, serta dinamika pemikiran Islam kontemporer. Bagian kedua mengulas konteks geografis studi tafsir, mulai dari historisitas ‘ulum al-Qur’an, ideologisasi sejarah tafsir di Indonesia, hingga perkembangan kajian Al-Qur’an di Barat.
Bagian ketiga menawarkan kritik teks dan pembacaan terhadap pemikiran sejumlah sarjana kontemporer, antara lain ‘Izzat Darwazah, Abu Zayd, Muhammad Abid al-Jabiri, dan Hassan Hanafi. Melalui struktur tersebut, Farid tidak sekadar mempertentangkan Timur dan Barat, tetapi menelusuri hubungan antara teks, konteks, tradisi intelektual, dan perubahan sosial.
“Buku ini sedikit banyak mengajukan kritik, sekaligus apresiasi bagi Al-Qur’an dan tafsir,” tulis Farid. Ia mengakui bentuk kumpulan tulisan memungkinkan adanya beberapa keterputusan gagasan. Namun, seluruh pembahasan tetap dipersatukan oleh perhatian terhadap sejarah Al-Qur’an dan tradisi penafsirannya.
Proses penerbitannya juga merupakan pergulatan melawan keraguan atas kematangan karya. “Tidak ada karya yang sempurna. Ia justru mesti hadir untuk mendapatkan kritik dan review,” tegasnya. 13/08/2026.
Farid berharap pembaca memberikan catatan kritis demi penyempurnaan buku pada edisi berikutnya. Kehadiran karya ini memperluas percakapan tentang tafsir sebagai tradisi keilmuan yang hidup—terbuka untuk ditelaah, dikritik, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan tantangan zaman. (Ars)
